Selasa, 01 Februari 2011

di ulang

tadi sore ketika adikku pulang sekolah, ibuku langsung bertanya tentang uangnya yang hilang. dan mendesak adikku untuk mengakuinya, apakah ia yang mengambilnya ?. adikku bersikeras berkata tidak, dan menjelaskan perkaranya dan kenapa ia tidak meminta uang saku uantuk sekolah tadi pagi ? namun ibuku lebih memilih untuk mendesaknya dengan berodongan tuduhan yang benar-benar pernah ku rasakan, ketika pertama kali aku kabur dari rumah.

ibuku membuat rajutan tintaku berhenti dan menyimak semua perkataan dan serapah dari dalam hatinya ketika adikku meninggalkan niatanya untuk memamah nasi dan lauk yangia ambil dari dapur. menuju kamarnya sembari menangis terisak, penuh kesal yang mendalam, naik pitam, dan ia letakkan makanan itu lalu bergegas pergi meninggalkan kamarnya d antara celetupan-celetupan adikku yang paling kecil "ia moster di rumah".

kinikusadari betapa tidak mengiginkannya ibuku kami menjalani hidup kami, betapa teledornya ibuku menaruh uangnya, betapa menyebalkannya semua keluhan itu, dan sindiran orang dewasa yang lemah.

ibuku meyakinkanku jika aku tak layak untuk menikah. ibuku meyakinkanku jika aku sudah saatnya untuk angkat kaki, ibuku ia tetap ibuku.

ketika adikku itu beranjak dari kamarnya, mengexspresikan kemarahannya itu, ku panggil ia dan ku katakan sesuatu dari bibirku "jangan pulang sebelum di minta pulang "

di renungan aku harus membesarkan hatinya, jika ia tak sendiri, jika saya masih ada, jika saya masih perduli. jika saya masih berharap ia mau terus berjuang bertahan untuk hidupnya. uantuk semua hal yang ia inginkan tentang hidupnya.

kini ia membuat saya untuk berfikir tentang berjuang.

ibuku mengulag semua hal yang ia lakukan padaku dan keduaadikku lagi.

ibu simpan uangmu di tempat yang aman, jika kau tak iangin di rundung marah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar